Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Dinno Mulyono, M.Pd. MM.

Artikel Umum

Stratifikasi Sekolah

Dipublikasikan pada : 18 September 2015. Kategori : .

Stratifikasi Sekolah

Oleh : Dinno Mulyono, S.Pd.

Pada suatu waktu, sahabat saya yang belum familiar dengan dunia pendidikan, bertanya, “Apa sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) itu?”. Saya hanya menjelaskan secara sederhana, bahwa RSBI memiliki standar khusus dalam metode dan fasilitas pembelajaran, kurikulum dan tenaga pendidiknya. Selain itu, dukungan finansialnya pun dilakukan secara khusus, sehingga memungkinkan adanya peningkatan dan pengembangan sekolah secara berkesinambungan.

Tapi disisi lain, kita melihat adanya kasus yang jauh bertolak belakang. Seperti beberapa sekolah swasta atau negeri sekalipun yang terletak jauh dipinggiran kota. Gedung dan prasarana belajar tersedia seadanya, bahkan terkesan diabaikan. Banyak guru yang mengajar pada tiga atau enam kelas sekaligus. Jangankan meminta sumbangan pada orang tua, anak sudah mau datang ke sekolah saja sudah mujur. Tidak ada fasilitas peningkatan kompetensi guru, bahkan untuk mengajukan sertifikasi pun belum tentu bisa tercapai.

Kondisi tersebut ditambah dengan berdirinya berbagai sekolah yang menawarkan nilai plus-plus, seperti proses mengajar bilingual, kelas ber-AC, hotspot, standar internasional, outbond dan berbagai fasilitas pendidikan lainnya yang ‘wah’. Kondisi ini seolah memaksa masyarakat untuk memilih sekolah yang paling sesuai dengan keadaan keluarga. Keluarga yang mampu secara ekonomi memaksakan anak-anaknya untuk memasuki sekolah-sekolah tersebut, terlepas dari kondisi apakah proses pendidikan yang dilaksanakan sesuai dengan potensi anaknya atau tidak.

Situasi pendidikan dewasa ini benar-benar memberikan warna baru dalam sejarah pendidikan di negara ini. Berbagai sekolah afiliasi didirikan, sekolah negeri pun berupaya untuk memberikan layanan berstandar tinggi, supaya anak dapat bersaing dalam kancah global. Tidak ada yang patut disalahkan, karena pendidikan memang berupaya membentuk manusia secara utuh.

Fenomena diatas jika dilihat dari aspek sosiologis, maka akan memberikan gambar yang baru. Seolah tercipta sebuah struktur atau tatanan baru yang melibatkan sekolah sebagai tempat berlangsungnya pewarisan budaya dan peradaban. Jika dulu institusi pendidikan berperan sebagai jembatan dimana berbagai orang dari strata yang berbeda dapat saling bertemu dan bertukar ilmu, kini justru berperan dalam menentukan strata sosial seseorang.

Pembentukan sebuah struktur baru dalam dunia pendidikan adalah hal yang wajar, karena peradaban manusia akan selalu tumbuh dan berkembang. Dengan catatan, kita harus mengantisipasinya dengan menyejajarkan proses tranformasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai strata sosial yang ada. Karena dampaknya akan mempengaruhi pencapaian standar nasional pendidikan, terutama pemerataan pembangunan di masa yang akan datang. Munculnya fenomena stratifikasi sekolah ini harus kita awasi dan kendalikan, supaya tidak memberikan peluang adanya penyimpangan-penyimpangan yang berdampak negatif bagi dunia pendidikan maupun pembangunan masyarakat secara keseluruhan. Jangan hanya mengedepankan persaingan brand image semata.

Pendidikan adalah investasi penting bagi pembangunan negara ini, karena yang dipertaruhkan adalah masa depan bangsa. Mudah-mudahan kita dapat memberikan kontribusi terbaik bagi dunia pendidikan yang akan mewarnai kehidupan bangsa ini di masa yang akan datang.

Wallahu a’lam bishowab

Penulis adalah Dosen PLS STKIP Siliwangi Bandung