Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Dinno Mulyono, S.Pd. MM.

Artikel Umum

Menjadi Guru yang Literat

Dipublikasikan pada : 18 September 2015. Kategori : .

Menjadi Guru yang Literat

Oleh : Dinno Mulyono

Membaca tulisan Sri Handayaningsih, S.Pd. yang dimuat harian ini (19/07/11) yang berjudul “Pendidikan Karakter melalui Sastra”, serasa menemukan kembali beberapa hal yang sebenarnya perlu dijadikan budaya dasar dalam dunia pendidikan kita, yakni budaya baca. Budaya baca berkorelasi dengan kemajuan sebuah bangsa, terutama penguasaan ilmu pengetahuan. Berbagai catatan perkembangan peradaban manusia terdokumentasikan dalam buku. Tak hanya tentang iptek, tapi berbagai karya sastra yang dihasilkan penulis-penulis ulung dari berbagai zaman.

Budaya ‘mencintai’ buku tidak dapat dibentuk dalam waktu yang singkat. Pembentukannya membutuhkan proses yang berkelanjutan dan konsisten. Coba perhatikan ungkapan Gubernur Ahmad Heryawan, bahwa indeks membaca di Jawa Barat hanya 0,001 yang artinya satu buku dibaca oleh 1000 orang. Sementara Amerika 0,45 dan Singapura 0,55 (PR, 06/05/10). Bahkan UNESCO menyebutkan bahwa minat baca di negara Indonesia tercinta adalah terendah dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya (Republika, 26/01/11). Fakta ini memberikan kita satu gambaran mengenai rendahnya minat membaca di negara ini.

Budaya membaca akan mendukung terbentuknya sebuah masyarakat yang literat. Literat berasal dari kata literate yang berarti melek huruf atau terpelajar. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2003) dikenal istilah literator yang berarti ahli sastra atau pengarang profesional. Namun, dewasa ini makna literat tak hanya berbasis pada kemampuan untuk membaca, menulis dan berhitung. Tapi, lebih pada kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui proses belajar, baik terstruktur maupun belajar mandiri. Inilah yang kemudian harus kita maknai sebagai budaya literat, dari hasil membaca.

Budaya membaca dan literasi dalam dunia pendidikan sangat berkaitan erat. Bagi para guru, literasi bukan berkaitan dengan kemampuan membaca. Tapi berhubungan dengan kemampuan untuk membiasakan dirinya dalam budaya membaca. Sebelum ia mengajarkan kepada siswanya untuk ‘gila’ membaca, tentu sangat baik bila ia sendiri yang memberikan contoh untuk mulai membiasakan diri membaca buku.

Sekarang, rata-rata tingkat pendidikan akademik guru di kota besar adalah sarjana. Kondisi ini harus dibarengi dengan dimulainya membangun kebiasaan membaca di kalangan guru. Bagaimanapun guru adalah salah satu sumber belajar di sekolah, tak mungkin guru yang tidak membiasakan diri untuk membaca mampu mendorong proses belajar yang optimal. Karena, bisa dipastikan guru terus menerus memberikan materi ajar, hanya berdasarkan buku panduan materi pokok saja. Sedangkan tuntutan dunia pendidikan dewasa ini tidak hanya menuntut siswa untuk cerdas menguasai bidang-bidang yang terdapat dalam kurikulum saja, tapi siswa diarahkan untuk mampu mengenali dan mengembangkan potensi pribadi maupun potensi sosialnya.

Membangun budaya literat di kalangan guru sangat penting. Konteks membaca tidak hanya berkaitan dengan melek huruf, tapi juga melek teknologi. Peran teknologi dalam menunjang proses pembelajaran sangat besar. Dengan bantuan teknologi, guru bisa memindahkan dunia luar ke dalam kelas. Proses pembelajaran ini lebih mampu merangsang imajinasi siswa, daripada hanya menjabarkan gambar yang tercetak di buku pokok materi pembelajaran. Teknologi pun menyediakan akses tanpa batas untuk berbagai informasi yang berhubungan dengan materi pembelajaran, hingga guru dapat terus mengupdate berbagai informasi yang mendukung proses pembelajaran di kelas.

Literat bagi guru juga berkaitan dengan kemampuannya menguasai bahasa asing. Terutama bahasa yang tengah menjadi bahasa pergaulan internasional. Penguasaan bahasa asing menjadi penting, karena banyak sumber belajar dan informasi aktual yang masih tersusun dalam bahasa aslinya, terutama Bahasa Inggris. Kemampuan ini memudahkan guru dalam membangun relasi dengan dunia yang lebih luas. Selain itu, guru dapat menguasai komunikasi dan informasi yang menyeluruh dan up to date.

Budaya literat bagi guru merupakan sebuah prasyarat untuk membentuk masyarakat literat. Siswa sekolah dasar sekarang adalah pemimpin Indonesia di masa yang akan datang. Dengan budaya gemar membaca, terbuka terhadap informasi aktual, cerdas dalam mengembangkan diri, diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi dunia pendidikan. Hendaknya para guru mulai membangun budaya literat di lingkungan masing-masing, supaya terbebas dari bahaya wabah illiterate.

Wallahu a’lam bishowab.

Penulis adalah Dosen PLS STKIP Siliwangi Bandung