Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Dinno Mulyono, S.Pd. MM.

Artikel Umum

Keluarga dan Pendidikan Karakter

Dipublikasikan pada : 19 Juli 2014. Kategori : .

 

  • pendidikan

Pendidikan pada beberapa waktu terakhir mengalami peyorasi (pendangkalan makna). Pendidikan seringkali diidentikan dengan berbagai program pendidikan yang dilakukan pada satuan-satuan pendidikan formal, terutama sekolah. Sekolah seolah menjadi satu-satunya lembaga pendidikan yang paling dipercaya, sehingga para orang tua rela mengeluarkan biaya yang besar untuk membiayai pendidikan anak-anaknya di sekolah tersebut.

 

Sekolah pun kini berlomba-lomba untuk menyediakan berbagai layanan yang menjanjikan. Mulai dari penggunaan peralatan mutakhir sebagai media pembelajaran maupun penggalian potensi-potensi alam untuk membantu anak belajar. Dengan kata lain, sekolah telah menyediakan berbagai pola dan program pendidikan yang siap untuk ‘membentuk’ anak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, maupun tujuan institusi pendidikan itu sendiri dan tentu saja sesuai harapan para orang tua.

 

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan proses perkembangan pendidikan di negara ini, karena semuanya adalah tuntutan perkembangan peradaban manusia yang semakin maju. Tapi perlu kita sadari, bahwa pendidikan tidak sebatas proses menyelesaikan program-program kurikuler, kemudian mendapatkan ijazah. Pendidikan menurut Paulo Freire (1984) adalah sebuah proses penyadaran pada potensi kemanusiaan setiap manusia. Kemudian, HAR. Tilaar (2003) menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses humanisasi dan homonisasi. Dengan kata lain tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusia seseuai dengan harkat dan martabatnya, supaya hidup selaras, serasi dan seimbang dalam lingkup kehidupan sosialnya.

 

Proses pendidikan yang memanusiakan tidak berawal dari sekolah tapi dari lingkungan keluarga. MI. Sulaeman (1994) menyebutkan bahwa pendidikan pertama dan utama berjalan dalam lingkungan keluarga. Anak dilahirkan dari dalam lingkungan keluarga, diasuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga pula. Setiap pesan dan interaksi yang terjadi di dalam keluarga memberikan warna tersendiri dalam setiap perlaku anak. Karakter awal anak berkembang dan terbentuk dari dalam lingkungan keluarga, bukan dari sekolah.

 

Pendidikan karakter yang sekarang menjadi tema program pendidikan nasional, harus pula didukung dengan adanya kesadaran untuk memberikan penyadaran pada masyarakat perihal pentingnya pendidikan dalam keluarga. Sekolah hanya menyelenggarakan proses transformasi untuk membangun kompetensi anak. Tapi, pembentukan karakter lebih banyak ditentukan oleh proses-proses pendidikan yang berlangsung di dalam lingkungan keluarga. Sikap toleransi, sportivitas, tanggung jawab, integritas dan berbagai sikap hidup positif lainnya berkembang sesuai dengan pola hidup yang terdapat dalam lingkungan keluarga. Setelah anak siap untuk memasuki jenjang formal, maka sekolah yang akan melanjutkan proses pendidikan yang dianggap perlu bagi anak.

 

Perlu difahami, kurangnya pola pendidikan dan interaksi dalam keluarga akan memberikan dampak buruk pada perkembangan karakter anak. Maraknya kasus tawuran antar pelajar, berandalan bermotor, seks bebas, penyalahgunaan narkotika hingga keterlibatan dalam berbagai organisasi radikal adalah puncak dari lemahnya keterikatan anak dengan keluarga. Bila situasi dan kondisi masyarakat pun mendukung perilaku negatif anak, maka bukan tidak mungkin potensi munculnya perilaku menyimpang semakin meningkat.

 

Dapat kita bayangkan bila beberapa ribu anak dan remaja mengalami masalah di dalam keluarga, maka taruhannya adalah masa depan negara ini. Jika sekarang kita melihat banyaknya kasus korupsi, teorisme, bunuh diri dan berbagai gejala patologi sosial lainnya, bukan tidak mungkin semuanya berawal dari permasalahan keluarga yang tersembunyi, seperti bara dalam sekam. Permasalahan yang ada di dalam lingkungan keluarga, sudah seharusnya diberikan proporsi perhatian yang sesuai, karena dampaknya tidak hanya pada satu keluarga atau anak, tapi dapat mempengaruhi berbagai lini kehidupan sosial kelak.

 

Tak perlu menunggu regulasi pemerintah dan legislatif, kita bisa memulainya dari dalam keluarga sendiri. Memberikan perhatian, kasih sayang dan mengajarkan anak arti eksistensi dirinya di dalam lingkungan keluarga, merupakan salah satu pola pendidikan karakter yang patut dikembangkan dalam keluarga kita. Bila dilaksanakan secara konsisten, maka anak akan mengikuti apa yang kita lakukan. Harus kita sadari bersama, bahwa apa yang kita raih sekarang, tak mungkin terlepas dari pendidikan yang kita dapatkan dari lingkungan keluarga.